Logo BoosterStudioBOOSTERSTUDIO← Kembali ke Artikel

Bahaya AI, Penurunan Kinerja Otak

AI
agus • 17 Aug 2026 • 14 dilihat

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mahasiswa menggunakannya untuk menyusun tugas, pekerja memanfaatkannya untuk meringkas dokumen, dan masyarakat memakai AI untuk memperoleh informasi dengan cepat. Manfaat tersebut nyata, tetapi muncul persoalan baru: ketika AI terlalu sering menggantikan proses berpikir, manusia berisiko semakin jarang melatih kemampuan mengingat, menganalisis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan secara mandiri.

Dalam ilmu kognitif, fenomena ini dikenal sebagai cognitive offloading, yaitu memindahkan sebagian beban berpikir atau mengingat kepada alat eksternal. Risko dan Gilbert (2016) menjelaskan bahwa manusia secara alami menggunakan lingkungan dan teknologi untuk mengurangi beban kognitif. Strategi ini dapat membantu efisiensi, tetapi ketergantungan yang berlebihan dapat mengurangi keterlibatan seseorang dalam proses mental yang seharusnya dilakukan secara mandiri.

Fenomena serupa sebenarnya telah ditemukan sebelum munculnya AI generatif. Sparrow, Liu, dan Wegner (2011) melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science menunjukkan bahwa ketika seseorang mengetahui suatu informasi dapat ditemukan kembali melalui komputer, ia cenderung lebih sedikit mengingat isi informasi tersebut dan lebih mengingat di mana informasi dapat ditemukan. Temuan ini memperlihatkan bahwa teknologi dapat mengubah strategi manusia dalam menyimpan dan mengambil informasi.

Risiko tersebut menjadi semakin relevan pada era AI generatif. Zhai, Wibowo, dan Li (2024), melalui systematic review dalam jurnal Smart Learning Environments, menemukan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap sistem dialog AI berpotensi mengganggu keterlibatan dalam kemampuan kognitif penting, terutama berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan penalaran analitis. Masalah terjadi ketika pengguna menerima jawaban AI tanpa memeriksa kembali logika, bukti, sumber, maupun kebenaran informasi yang diberikan.

Bukti eksperimental yang lebih kuat datang dari Bastani dan kolega (2025) dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Penelitian terhadap hampir seribu siswa sekolah menengah menunjukkan bahwa penggunaan GPT-4 tanpa pengamanan meningkatkan kinerja siswa selama mengerjakan latihan. Akan tetapi, ketika akses AI kemudian dihilangkan, kelompok yang menggunakan AI dasar memperoleh nilai sekitar 17 persen lebih rendah dibandingkan kelompok yang sejak awal tidak menggunakan AI. Peneliti menemukan bahwa sebagian siswa menggunakan AI sebagai “penopang” untuk memperoleh jawaban, sehingga peningkatan performa saat menggunakan teknologi tidak selalu berarti peningkatan kemampuan belajar yang bertahan lama.

Dalam jangka panjang, kebiasaan memperoleh jawaban secara instan juga dapat mengubah cara seseorang menghadapi kesulitan intelektual. Proses belajar membutuhkan usaha, kesalahan, koreksi, pengulangan, dan kemampuan mempertahankan perhatian. Apabila setiap persoalan langsung diserahkan kepada AI, kesempatan melakukan latihan mental tersebut dapat berkurang. Oleh sebab itu, literasi AI seharusnya tidak hanya mengajarkan kemampuan membuat prompt, tetapi juga kemampuan mempertanyakan, memverifikasi, dan menilai jawaban AI secara mandiri.

Meski demikian, istilah “AI merusak otak” tidak boleh dipahami secara harfiah. Bukti ilmiah saat ini lebih kuat menunjukkan risiko berkurangnya keterlibatan dan latihan kognitif, bukan bukti bahwa penggunaan AI secara langsung menyebabkan kerusakan biologis pada otak. Bahkan, AI yang dirancang secara tepat dapat mendukung pembelajaran. Penelitian Kestin dan kolega (2025), misalnya, menemukan bahwa tutor AI yang menggunakan prinsip pembelajaran terstruktur dapat meningkatkan hasil belajar secara signifikan dalam konteks pendidikan tertentu.

Karena itu, bahaya utama AI bukan terletak pada teknologinya, melainkan cara manusia menggunakannya. AI sebaiknya menjadi mitra berpikir, bukan pengganti berpikir. Biasakan mencoba menyelesaikan masalah terlebih dahulu, gunakan AI untuk memperoleh umpan balik, kemudian verifikasi sumber dan jelaskan kembali jawabannya menggunakan bahasa sendiri. Dengan pola tersebut, manusia dapat memperoleh manfaat AI tanpa kehilangan kebiasaan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, dan kemandirian intelektual.

Daftar Pustaka

Bastani, H., Bastani, O., Sungu, A., Ge, H., Kabakcı, Ö., & Mariman, R. (2025). Generative AI without guardrails can harm learning: Evidence from high school mathematics. Proceedings of the National Academy of Sciences, 122(26), e2422633122. DOI: 10.1073/pnas.2422633122.

Kestin, G., Miller, K., Klales, A., Milbourne, T., & Ponti, G. (2025). AI tutoring outperforms in-class active learning: An RCT introducing a novel research-based design in an authentic educational setting. Scientific Reports, 15, 17458. DOI: 10.1038/s41598-025-97652-6.

Risko, E. F., & Gilbert, S. J. (2016). Cognitive offloading. Trends in Cognitive Sciences, 20(9), 676–688. DOI: 10.1016/j.tics.2016.07.002.

Sparrow, B., Liu, J., & Wegner, D. M. (2011). Google effects on memory: Cognitive consequences of having information at our fingertips. Science, 333(6043), 776–778. DOI: 10.1126/science.1207745.

Zhai, C., Wibowo, S., & Li, L. D. (2024). The effects of over-reliance on AI dialogue systems on students’ cognitive abilities: A systematic review. Smart Learning Environments, 11, 28. DOI: 10.1186/s40561-024-00316-7.

Temukan produk digital yang mendukung kebutuhan Anda.Jelajahi Produk →